Tagline “Beli semua di Shopee” pada platform media sosial: Sebuah analisis wacana kritis
Keywords:
Shopee, Tagline, Analisis Wacana Kritis, Perilaku KonsumenAbstract
Dengan menggunakan model Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) dari Teun A. van Dijk, penelitian ini mengadopsi metode analisis isi kualitatif. Data dikumpulkan dari iklan digital Shopee serta unggahan media sosial di Twitter, Instagram, dan Facebook. Analisis difokuskan pada tiga tingkat, yaitu mikrostruktur (pilihan kata, sintaksis, retorika), superstruktur (organisasi pesan), dan makrostruktur (tema dominan dalam wacana konsumen). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Shopee secara strategis membangun tagline untuk memposisikan dirinya sebagai destinasi belanja daring yang paling lengkap, terjangkau, dan mudah diakses. Unsur bahasa persuasif, seperti diksi yang menimbulkan urgensi (flash sale, promosi waktu terbatas), struktur kalimat langsung, serta teknik retorika visual yang mencolok (warna cerah, angka besar), digunakan untuk menarik perhatian konsumen. Selain itu, strategi komunikasi Shopee turut membentuk budaya konsumtif dengan menciptakan efek Fear of Missing Out (FOMO) melalui promosi berbatas waktu dan kampanye diskon musiman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tagline Shopee tidak sekadar slogan pemasaran, melainkan strategi wacana yang memengaruhi persepsi konsumen dan kebiasaan belanja digital. Melalui pesan yang konsisten dan persuasif, Shopee berhasil membangun hegemoni atas konsumen, membentuk perilaku belanja, serta memperkuat dominasinya dalam industri e-commerce. Temuan ini memberikan wawasan bagi akademisi dan praktisi dalam memahami peran strategi branding berbasis wacana dalam industri e-commerce.


